Memadukan Teknik Fotografi dengan Kesempatan Momentum

Memadukan Teknik Fotografi dengan Kesempatan Momentum,- KOMPOSISI visual artisitik bersama ragam usungan genre fotografi tersaji dalam pameran kompilasi poto dari Artsides Photowoks bertopik "Hati dan Rasa" di Atrium Braga Citywalk, Jalan Braga, Kota Bandung, 14-18 April 2016. Penampakan objek photo condong merepresentasikan ketajiran sumber daya alam Indonesia, menyuguhkan bentang alam dgn kesan indah. Fotografer terkesan berikhtiar mengoptimalkan momentum guna memperoleh komposisi poto optimal, memotret waktu sumber pencahayaan natural (sinar matahari) memancar halus. 

Dalam karya "Senja Berbisik", fotografer Simon Novianto memotret kegiatan masyarakat di pinggir pantai diwaktu posisi matahari nyaris tenggelam di garis horizon. Cahaya kuning keemasan di langit, & yg memantul ke permukaan pasir menyusun latar visual mengilau. Sisi pengambil gambar yg menghadap serentak ke sumber cahaya menghadirkan dampak siluet terhadap objek terdekat. 

Fotografer Harry Hayanto pilih memotret diwaktu matahari terbit sekian banyak derajat dari garis horizon guna membuahkan komposisi karya yg berjudul "Bias Pagi". Membawa latar visual lokasi pepohonan di Dataran Tinggi Dieng, jateng, Harry memfokuskan hidangan kepada tekstur natural berupa pola garis cahaya matahari yg masuk ke sela-sela daun, & ranting pohon. Kedatangan satu orang dalam frame nampak isi lokasi visual, walaupun tidak demikian signifikan. 

Panorama kawah di Desa Air Bara, Kecamatan Gegas, Pulau Bangka jadi penyusun komposisi objek dua photo yg tergabung dalam judul "Camoi Aek Biru" karya fotografer Stefanus Hendrawan. Susunan visual dari dua poto nampak saling melengkapi, seolah hendak menampilkan keindahan kawah dengan cara utuh. Genangan air terhadap kawah yg membiaskan pantulan cahaya langit menghadirkan kesan kontras pada tekstur batuan. Melengkapi penampilan visual karyanya, Stefanus terlihat menyertakan sentuhan koreksi digital, menegaskan susunan warna.

Penonjolan unsur ketajaman tersaji dalam karya Indra Kusuma yg berjudul "Niagara From Java", menampilkan sebahagian bagian tebing air terjun. Berdasarkan penampakan falsafah air yg menggumpal halus , Indra memotret bersama bukaan rana lambat. Pemilihan segi pengambilan gambar dari posisi bawah, menunjukkan lebar, & ketinggian air terjun. Sebanyak orang di pinggir luncuran air yg kelihatan mungil turut membangun ilustrasi skala. 

Visualisasi karya poto bersama genre human interest pula memuat unsur artistik, seperti yg terlihat terhadap "Simbok" hasil penuangan rencana fotografer Simon Novianto. Konten karya menyajikan gambaran kegiatan masyarakat yg terbagi dalam dua frame, wanita paruh baya yg sedang memarkirkan sepeda di bawah pohon, & pesepeda yg membonceng satu orang penumpang. Sembari memancing respons perasaan, Simon menyodorkan situasi latar lingkungan sunyi. Pola garis pancaran cahaya matahari pagi yg lewat celah pepohonan rimbun mendominasi komposisi visual, terasa menimbulkan kesan dramatis pada penampakan kegiatan penduduk.

Penawaran visual genre poto still life, hasil eksplorasi pada objek benda statis menampakkan daya kreativitas fotografer. Ragam kategori matapencaharian penduduk, di antaranya penangkap ikan air tawar, petani, perajin tahu menawari variasi materi hidangan. Potret rutinitas, pula budaya khas daerah turut menarik perhatian fotografer, seterusnya membagikan pengalaman visualnya terhadap khalayak. 

Rentetan suguhan photo aneka tipe burung, di antaranya "Layang-Layang Api (Barn Swallow)" karya Tio Srie, "Elang Tikus (Black-winged kite)" karya Pandji Irawan, kelihatan memenuhi salah satu sudut pameran. Merujuk suguhan visual, komposisi tersusun oleh ketepatan momentum, & ketelatenan fotografer. Faktor itu terlihat teramat kentara dari penampakan "Kangkareng Perut Putih (Oriental Pied Hornbill)" karya Daniel AB, & "Perenjak Jawa (Bar-Winged Prinia)" karya Dedi Aryana, burung nampak sedang mengambil mangsa santapan kepada paruh
Memadukan Teknik Fotografi dengan Kesempatan Momentum | hewan unik | 5

0 komentar:

Poskan Komentar